RADAR.CO.ID – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu resmi menghentikan sementara seluruh aktivitas pendakian di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba, Kabupaten Rejang Lebong.
Kebijakan ini disampaikan melalui surat resmi yang diterima Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bukit Kaba pada Kamis, 20 November 2025.
Ketua Pokdarwis Bukit Kaba, Yulian Adi Pratama, menjelaskan bahwa penutupan jalur bukan terkait program pemulihan ekosistem seperti yang pernah dilakukan pada awal 2025.
Menurutnya, penyebab utama adalah kondisi cuaca yang dalam beberapa hari terakhir sangat ekstrem.
“Pertimbangan utama adalah hujan lebat yang disertai angin kencang. Kondisi ini berpotensi membahayakan pendaki, sehingga jalur pendakian ditutup sementara sebagai langkah antisipasi,” ujarnya.
Ditutup 18–30 November, Berpotensi Diperpanjang
Adi menyebutkan bahwa penutupan jalur pendakian mulai diberlakukan sejak 18 November 2025 dan dijadwalkan berlangsung hingga 30 November 2025.
Setelah tanggal tersebut, pihak Pokdarwis bersama BKSDA akan melakukan evaluasi kondisi lapangan.
“Jika cuaca masih tidak bersahabat setelah 30 November, penutupan bisa diperpanjang,” tambahnya.
Penutupan ini berlaku untuk seluruh aktivitas, baik pendakian harian maupun pendakian dengan bermalam.
Selama masa penutupan, anggota Pokdarwis akan melakukan patroli serta memeriksa kondisi jalur.
Termasuk membersihkan pohon tumbang atau material lain yang berpotensi menghalangi rute pendakian.
Evakuasi Dua Pendaki Sempat Viral
Sebelum penutupan resmi diberlakukan, Pokdarwis sempat melakukan dua kali evakuasi terhadap pengunjung.
Adi menegaskan bahwa evakuasi tersebut bukan karena cuaca ekstrem, melainkan insiden terjatuh dan kelelahan pada dua pendaki yang berbeda.
Namun, proses evakuasi yang berlangsung dalam kondisi hujan sempat menjadi perhatian warganet setelah videonya viral di media sosial.
“Evakuasi yang kami lakukan tidak terkait cuaca, namun kebetulan terjadi saat hujan sehingga terlihat dramatis,” jelasnya.
Penutupan ini diharapkan dapat memberi waktu bagi pengelola untuk memastikan keamanan jalur dan meminimalkan risiko kecelakaan bagi pendaki hingga kondisi cuaca kembali normal.









