RADAR.CO.ID – Masalah stunting masih menjadi tantangan penting bagi Kabupaten Rejang Lebong.
Kondisi ini bukan sekadar soal tinggi badan anak yang tidak sesuai usia, tetapi berkaitan langsung dengan kualitas hidup dan masa depan generasi daerah.
Dengan jumlah penduduk sekitar 250 ribu jiwa yang tersebar di 122 desa dan 34 kelurahan, kelompok anak usia 0–5 tahun menjadi sasaran utama dalam upaya pencegahan stunting.
Mereka merupakan 3,88 persen dari total penduduk, dan berada pada masa krusial 1.000 hari pertama kehidupan — periode yang sangat menentukan perkembangan fisik dan kecerdasan anak.
Kondisi Sebaran Anak dan Kelompok Rentan
Sementara itu, Data menunjukkan Kecamatan Padang Ulak Tanding memiliki jumlah anak usia 0–5 bulan terbanyak.
Yaitu 316 anak, dan anak usia 6–23 bulan sebanyak 641 anak.
Sementara kelompok usia 24–59 bulan paling banyak berada di Kecamatan Selupu Rejang, dengan jumlah mencapai 1.267 anak.
Di sisi lain, Selupu Rejang juga menjadi wilayah dengan jumlah remaja putri terbesar, yaitu 3.426 orang.
Selain itu, di kecamatan ini terdapat 173 calon pengantin, 591 ibu hamil, dan 261 ibu nifas.
Dengan demikian, maka kondisi ini menjadikan Selupu Rejang sebagai salah satu titik strategis dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Prevalensi Stunting Mengalami Penurunan
Berdasarkan pengukuran e-PPGBM oleh Dinas Kesehatan Kabupaten, prevalensi stunting pada tahun 2025 tercatat sebesar 2,53 persen atau 374 anak.
Meski angka ini masih menjadi perhatian, tren penurunannya menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat mulai memberikan hasil positif.
Selain stunting, kasus gizi buruk juga dipantau ketat. Periode Januari–Mei 2025 mencatat delapan anak mengalami gizi buruk, dan seluruhnya kini mendapatkan pendampingan intensif dari tenaga kesehatan, kader PKK, Kader KB, serta Tim Pendamping Keluarga.
Upaya Terpadu Berbagai Sektor
Sementara itu, Pemkab Rejang Lebong bersama lintas sektor terus mendorong program pencegahan stunting melalui layanan terpadu.
Berbagai kegiatan dilakukan, mulai dari edukasi kesehatan reproduksi di sekolah, optimalisasi posyandu dan puskesmas.
Kemudian pemberian makanan tambahan, imunisasi, pemeriksaan rutin untuk ibu hamil dan balita, hingga pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri.
Meski program telah berjalan, sejumlah desa dan kelurahan masih memerlukan penguatan layanan.
Di sinilah peran masyarakat menjadi sangat penting, mulai dari menjaga pola makan keluarga, memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia, hingga menerapkan sanitasi dan pola asuh yang baik.
Kolaborasi Menjadi Penggerak Utama
Penurunan stunting tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja.
Upaya ini memerlukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari bidang kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, hingga pembangunan keluarga dan ketahanan keluarga.
Contoh konkret kolaborasi tersebut antara lain memastikan ibu hamil mendapatkan gizi yang cukup. Memberikan edukasi tentang ASI eksklusif, mencegah perkawinan anak, serta memastikan lingkungan tempat tinggal anak bebas dari pencemaran dan risiko penyakit.
Dengan kerja sama yang terarah dan berkelanjutan, Rejang Lebong optimistis mampu menekan angka stunting lebih cepat.
Tujuan akhirnya bukan sekadar menurunkan angka statistik, tetapi menciptakan generasi emas yang sehat, cerdas, dan produktif bagi masa depan Rejang Lebong yang Istimewa.
Laporan kondisi dan data yang ada diharapkan menjadi rujukan penting dalam menyusun kebijakan serta arah pembangunan daerah di masa mendatang.









